Takut Viral: Bukan Takut Salah, Tapi Takut Terbongkar

Like Comment

Di negeri ini, viral seringkali lebih ditakuti daripada kesalahan itu sendiri.

Bukan karena viral selalu salah, tapi karena viral bisa membuka sesuatu yang selama ini rapi ditutup.

Penegak hukum tahu itu. Pemerintah juga tahu itu.

Maka jangan heran, jika banyak yang terlihat lebih sibuk mengendalikan narasi daripada menyelesaikan masalah.

Ketika Citra Lebih Penting dari Kebenaran

Di era media sosial, kebenaran tidak lagi berdiri sendiri. Ia bersaing dengan persepsi.

Dan persepsi, sayangnya, lebih mudah dimanipulasi.

Kita sering melihat respons yang cepat bukan untuk memperbaiki keadaan, tetapi untuk meredam kemarahan publik.

Klarifikasi dibuat terburu-buru, pernyataan disusun hati-hati, bahkan kadang terasa seperti sekadar “menyelamatkan wajah.”

Pertanyaannya:
apakah yang sedang dijaga itu kebenaran, atau citra?

Viral Membongkar yang Tak Terlihat

Satu video amatir bisa mengalahkan seribu halaman laporan resmi.
Satu unggahan bisa mengguncang institusi yang terlihat kokoh.

Ini yang membuat viral berbahaya. Bukan karena isinya selalu benar, tapi karena ia sulit dikendalikan.

Di titik ini, ketakutan mulai masuk akal.

Karena ketika sesuatu sudah viral, tidak ada lagi ruang aman untuk bersembunyi di balik prosedur atau jabatan.

Penegakan Hukum di Bawah Tekanan

Penegak hukum seharusnya berdiri di atas fakta dan aturan.
Namun ketika publik sudah lebih dulu memvonis, posisi itu menjadi goyah.

Cepat disalahkan.
Lambat dicurigai.

Akhirnya, keputusan seringkali tidak lagi murni soal hukum, melainkan soal bagaimana meredam gelombang opini.

Dan di situlah integritas diuji.

Pemerintah dan Kerapuhan Kepercayaan

Bagi pemerintah, viral bukan sekadar isu komunikasi.
Ini soal kepercayaan.

Masalahnya, kepercayaan itu tidak sedang dalam kondisi baik-baik saja.

Maka setiap kesalahan kecil bisa meledak besar. Setiap kebijakan bisa dicurigai.

Setiap pernyataan bisa dipelintir, atau memang terasa tidak jujur.

Dalam situasi seperti ini, ketakutan terhadap viral bukan lagi soal media sosial, tapi soal rapuhnya hubungan antara negara dan rakyatnya.

Dan Kita Tidak Sepenuhnya Tidak Bersalah

Namun, menyalahkan aparat dan pemerintah saja terlalu mudah.

Kita, publik, juga punya peran dalam menciptakan iklim ini.

Kita cepat marah, tapi lambat memeriksa.

Kita suka membagikan, tapi jarang memahami.

Kita menuntut keadilan, tapi sering menghakimi tanpa proses.

Viral menjadi liar karena kita membiarkannya liar.

Jadi, Apa yang Sebenarnya Ditakuti?

Bukan sekadar viral.

Yang ditakuti adalah:

terbongkarnya ketidaksiapan, terlihatnya ketidakkonsistenan, dan hilangnya kendali atas cerita yang selama ini dipegang.

Penutup: Cermin yang Tidak Nyaman

Viral adalah cermin.

Masalahnya, tidak semua siap melihat pantulan dirinya sendiri.

Penegak hukum, pemerintah, dan masyarakat, semuanya ada di dalam cermin itu.

Dan mungkin, yang paling menakutkan bukanlah apa yang dilihat publik,
melainkan apa yang selama ini berhasil disembunyikan.***

Bagikan yaa :

About the Author: Rizki

Bukan Penulis, Bukan Juga Seorang Bloger. Hanya Manusia Biasa Yang Ingin Bahagia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *